Di balik setiap tenun, batik, dan kain tradisional, ada cerita, keterampilan tangan, dan identitas yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, budaya ini perlahan terkikis oleh tren fast fashion yang serba instan.
Saat kamu memilih memakai atau mendukung fashion berbasis tradisi, kamu bukan hanya peduli lingkungan tapi juga ikut menjaga sejarah, memberdayakan perajin lokal, dan memastikan budaya kita tetap hidup.
Itulah insight yang saya dapatkan saat mengikuti Online Gathering bareng Eco Blogger Squad.
Kali ini kami belajar tentang kain-kain indah yang berkelanjutan. Kain tenun Endo Segado yang dibuat oleh perempuan Suku Dayak Iban yang kaya akan nilai luhur.
Kemudian membahas bagaimana upcycling fashion bisa menjadi salah satu cara fashion berkelanjutan. Dilanjutkan dengan praktik membuat ecoprint bersama Cinta Bumi Artisans.
Kain Tenun Dayak Iban: Warisan Leluhur yang Sarat Makna
Dayak Iban adalah salah satu suku di Kalimantan Barat yang punya tradisi tenun luar biasa. Mereka menenun menggunakan teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun. Kain tenun Iban bukan sekadar selembar kain, tetapi juga bercerita tentang kehidupan, alam, dan kepercayaan suku Iban.
Namun, belakangan ini kebanyakan anak – anak muda (khususnya pemudi Dusun Sadap) banyak yang meninggalkan tradisi menenun tersebut. Bahkan mereka tidak tahu tentang tenun.
Baca Juga : Chathaulos, Hadirkan Ulos dalam Nuansa Kekinian
Ini yang membuat Margaretha Mala, merasa terpanggil dan termotivasi untuk belajar kembali dan mengajarkan tradisi menenun ini kepada anak – anak muda, pelajar, dan siapa saja yang mau untuk belajar menenun. Dia pun menginisiasi terbentuknya Komunitas Tenun Endo Segado.
Baca Juga : Muda Mudi Sayangi Bumi
Menurutnya, dengan menenun, berarti ikut berperan serta dalam melestarikan nilai – nilai luhur budaya dan tradisi Suku Dayak Iban.
Selain itu, menenun dengan pewarna alam dapat sebagai upaya konservasi terhadap jenis-jenis tumbuhan pewarna alam, dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat pewarna sintetis pakaian.
Selain belajar menenun dari inai-inai atau Ibu-Ibu desa Sadap, Margaretha juga mengikuti pelatihan seperti :
- Workshop dan menggali tradisi mewarnai dengan bahan alami tenun ikat Suku DayaK Iban.
- Pelatihan peningkatan kualitas kain tenun, pewarnaan benang, dan pengembangan kerajinan berbahan dasar kain serta cara pemasarannya.
Saat pewarnaan kain tenun ini, ada yang namanya proses nakar atau perminyakan. Proses Nakar atau Perminyakan adalah proses pemberian protein pada benang dengan tujuan agar kain dapat mengikat warna supaya warna lebih awet dan tahan lama.
Dulunya proses nakar masih menggunakan bahan hewani seperti lemak labi-labi, lemak ular atau ikan, buah kelapa busuk, buah jelemuk, buah kelampai, kedondong, buah kepayang, kayu pohon jangau, lemak ayam, biji-bijian atau bunga-bungaan
Kini, proses Nakar saat ini sudah tidak lagi menggunakan hewani karena sulit didapat, dan menggantinya dengan tumbuhan.
Saat melakukan proses nakar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti;
1. Proses nakar tidak boleh diakukan saat ada orang meninggal karena benang menjadi cepat rapuh atau putus
2. Yang melakukan pencampuran ramuan tersebut haruslah orang yang sudah berumur dengan kisaran lebih dari 60 tahun
3. Upacara nakar tidak boleh dilakukan di dalam rumah, harus di luar rumah
4. Perempuan yang sedang haid atau hamil juga tidak boleh melakukan prosesi nakar
5. Benang yang sudah melewati proses nakar harus dimasukkan ke dalam rumah betang dan dijaga sepanjang malam. Harus ada yang jaga
Kain tenun khas Dayak Iban ini dibuat dengan sepenuh hati dan kaya akan nilai tradisi. Pantas saja tidak boleh diperlakukan sembarangan. Jika kamu ingin memiliki kain ini, sebutannya mengadopsi bukan membeli.
Hal ini bertujuan agar pemilik kain ini tidak hanya menganggap kain ini hanya selembar kain biasa. Melainkan sebagai wastra Nusantara dengan nilai yang luhur.
Jenis kain tenun yang sering dibuat oleh sebagian besar suku Dayak Iban adalah pile, sidan, songket, dan pilih. Motifnya bermacam-macam. Kegiatan menenun biasa dilakukan pada siang hari atau malam hari.
Menenun tidak hanya mewariskan tradisi, tetapi juga upaya konservasi lingkungan. Berhubung kain ini menggunakan bahan-bahan alami, dibangunlah kebun etnobotani.
Kebun etnobotani adalah kebun koleksi tumbuh – tumbuhan yang dipergunakan sehari – hari oleh masyarakat etnis tertentu dengan berbagai pengetahuan pribumi dalam pemanfaatannya. Di dalam kebun tersebut terdapat sekitar 160 individu tanaman yang tumbuh dan dapat dikelompokkan dalam beberapa kelompok di bawah ini :
1. Pewarna alam : rengat akar, rengat padi, mengkudu, engkerebai,
tengkawang, belian, dll.
2. Tumbuhan obat : pasak bumi, langsat, tengkawang.
3. Bahan kerajinan : bemban, perupuk (pandan), bambu.
4. Tumbuhan penghasil buah – buahan : durian, langsat, cempedak,
empakan, nangka.
5. Tumbuhan bumbu masakan : daun tubuk, salam.
6. Bahan komoditas lainnya : aren, bambu, tengkawang.
7. Tanaman perkebunan : karet.
8. Tumbuhan kayu pertukangan : ulin / belian, meranti merah, dan pohon dipterocarpaceae lainnya.
Cinta Bumi Artisan: Mengangkat Wastra Nusantara ke Ranah Sustainable Fashion
Di tengah maraknya fast fashion yang merusak lingkungan dan budaya, muncul brand-brand lokal yang berusaha mengubah paradigma konsumsi fashion, salah satunya adalah Cinta Bumi Artisan.
Brand ini berkomitmen untuk mendukung perajin lokal dengan tetap mempertahankan teknik tradisional. Mereka bekerja sama langsung dengan pengrajin tenun dari berbagai daerah, termasuk komunitas sehingga mereka bisa tetap berkarya tanpa harus mengorbankan nilai budaya dan lingkungan.
Sebagaimana kain tenun khas Dayak Iban, produk-produk yang dihasilkan oleh Cinta Bumi Artisans ini juga menggunakan pewarna alami dari bahan alam, seperti:
- Serat kain: Kapas warisan, serat nanas, cupro, dan bahkan kain kulit kayu.
- Sumber pewarna: Daun jambu, kayu secang, marigold, hingga limbah dapur.
Adapun teknik yang digunakan adalah teknik eco printing. Yaitu menggunakan motif tanaman yang secara alami membekas pada kain.
Proses pewarnaan ecoprint ini dilakukan dengan empat tahapan, mulai dari scouring, mordanting, eco printing, hingga finishing. Scouring adalah mencuci kain dengan sabun alami untuk membuka pori serat.
Mordanting adalah proses fiksasi agar warna menyerap lebih baik. Terakhir, finishing adalah memberi waktu 5-7 hari sebelum pencucian pertama untuk hasil optimal.
Selain itu, Cinta Bumi Artisans juga memperkenalkan konsep Upcycling Fashion. Di mana produk fashion yang lawas, bisa diubah menjadi produk yang layak pakai.
Beberapa contoh karya upcycling dari Cinta Bumi Artisans, antara lain jumpsuit katun bekas dengan ecoprint daun jambu dan pewarna kulit buah jolawe dan crop top berbahan calico yang dicelup dengan marigold dan daun eucalyptus.
Setiap potongan yang lahir dari upcycling ini tidak hanya mengurangi limbah tekstil tetapi juga memberikan identitas baru menjadi produk bernilai lebih.
Cinta Bumi Artisans, menyebut penciptaan produknya sebagai “Wearable Poetry”, Di mana sandang dan aksesoris berbahan alami,produksi skala kecil, diolah secara etis.
Cinta Bumi Artisans juga bergerak dalam bidang edukasi. Beberapa edukasi yang dilakukan oleh Cinta Bumi Artisans adalah memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya beralih ke sustainable fashion.
Baca Juga : Green Jobs, Mengais Rezeki Sembari Menjaga Bumi
Cinta Bumi Artisans juga menggelar lokakarya pewarnaan sandang alami. Membuat kebun pewarna alami, penyebaran karya melalui tulisan hingga pengembang komunitas.
Saatnya Beralih ke Sustainable Fashion
Sustainable fashion bukan hanya soal menyelamatkan bumi, tapi juga soal menghargai sejarah, budaya, dan warisan leluhur kita. Dengan mendukung tenun khas Dayak Iban dan brand seperti Cinta Bumi Artisan, kita bisa tampil keren tanpa harus mengorbankan budaya dan lingkungan.
Jadi, sudah siap beralih ke fashion yang lebih bermakna?
Kapan hari sekolah Salfa buat seperti ini
BalasHapusAlhamdulillah buat 3 totebag dan laku semua di pameran
Senang sekali anaknya dan pengen suatu saat bikin baju katanya
Sekarang tuh ya anak mudanya kayak merasa gengsi kalau bergelut dengan yang bernuansa tradisional, kayak warisan budaya. Padahal, warisan budaya kayak kain tenun punya dayak Iban ini malah bisa jadi sustainable fashion ya.
BalasHapusMenarik sekali untuk konsep fashion yang lawas, bisa diubah menjadi produk yang layak pakai.
BalasHapusSemoga terus bertahan dan berkembang supaya lingkungan tidak terlalu banyak berkorban untuk fashion.
Tahjub saat melakukan proses nakar, sakral banget. Semoga penerus mengerti betapa nilai budaya itu sangat berharga dan penting untuk dilestarikan.
Duh, kalau lihat kain2 tradisional ini rasanya gak tega dipotong terus dibuat baju. Kepinginnya dikoleksi aja. Apalagi proses pembuatannya yang sakral dan tidak mudah. Semoga generasi muda sekarang mau belajar mengenai pentingnya menjaga warisan budaya dan pemberdayaan komunitas lokal. Dgn mendukung produk2 tradisional dan praktik berkelanjutan, kita dapat menjaga warisan budaya dan sekaligus menjaga lingkungan.
BalasHapusDi jaman ini kita memang harus lebih peduli sama lingkungan apalagi melihat kondisi bumi yang kita tinggali semakin hari semakin tidak layak huni. Dalam berpakaian pun kita harus mulai memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Upcycling fashion bisa menjadi salah satu solusi. Kain tenun Endo Segado yang dibuat ibu Dayak ini keren banget dan patut dilestarikan. Anak muda juga harus lebih aware dengan produk-produk seperti ini, tidak hanya ramah lingkungan tapi juga melestarikan budaya yang ada :)
BalasHapusFashion tradisional memang bercerita tentang turun temurun, ya. Bagaimana orang tuanya mewariskan kepada anaknya.
BalasHapusdan tenun dayak iban ini prosesnya panjang, namun tetap memperhatikan lingkungan , termasuk pewarnaan kain dengan cara alami dan menggunakan bahan alami juga.
Artikel ini benar-benar membuka mata tentang pentingnya sustainable fashion! Menjaga budaya lewat kain tradisional seperti tenun Dayak Iban bukan hanya soal estetika, tapi juga pelestarian warisan leluhur dan lingkungan. Salut buat komunitas yang tetap menjaga tradisi menenun dan brand seperti Cinta Bumi Artisans yang terus mengedukasi masyarakat soal fashion berkelanjutan. Daripada mendukung fast fashion yang merusak, kenapa nggak mulai pilih pakaian yang punya cerita dan nilai lebih? Yakan...
BalasHapusTenun dayak itu keren abiss... Motifnya dan cerita² di balik proses tenunnya. Sarat banget dengan nila² tradisi. Jika semua prosesnya dilakukan dgn ramah lingkungan, sy dukung penuh deh, salut! Sy baru tau kalo kita bawa pulang kain dayak ini istilahnya adopsi. Eh iya labi-labi tuh hewan apa ya, yg lemaknya dipakai untuk nakar?
BalasHapusKepedulian terhadap lingkungan udah harus banget apalagi soal fashion yg sustainable ini. Baru engeh daku tentang proses nakar ini, perlu dipahami tata caranya agar berjalan lancar ya
BalasHapusHebat sekali yaa masyarakat Dayak Iban masih melestarikan penenunan dan pewarnaan dengan cara tradisional. hasilnya juga bagus plus ramah lingkungan.
BalasHapusJadi pengen megang tenunan yg asli.
Ternyata fashion Suku Dayak Iban sudah bagus sekali kualitas dan sustainable ya. Harus dilestarikan dan mungkin bisa diadaptasi masyarakat banyak, jangan apa apa beli, langsung ganti. Jadi bisa lebih ramah lingkungan
BalasHapuskeren banget ya. ternyata bisa bikin produk fashion dari ecoprint. dan semua bahan2nya dari alam? ini harus banget sih dilestarikan supaya lebih sustain dan kita lebih bijak sama lingkungan
BalasHapuswah unik banget ini proses pewarnaan benang yang disebut nakar, apalagi harus dilakukan oleh orangtua yang berusia di atas 60 tahun, heritage baget ..
BalasHapusaku kalau melihat proses pembuatan kain tenun langsung ke kampung adatnya, dibuat kagum, mereka melestarikan produksi tenun dengan cara manual. Dan aku usahakan untuk membelinya juga, karena dengan begitu turut mensukseskan perekonomian mereka
BalasHapusAku baru tau tentang tenun suku iban ini, menarik juga. Prosesnya juga effort banget ini.
perlu dilestarikan pastinya
Melihat dan merasakan cuaca serta iklim saat ini, memang nggak ada salahnya untuk beneran lebih peduli lingkungan dan bumi tercinta dengan segala upaya. Salah satunya jalur fashion.
BalasHapusSemakin sadar pentingnya menggunakan bahan yang mudah terurai dan aman bagi lingkungan. Serta tidak meninggalkan kekayaan budaya negeri tercinta. Terutama Wastra Nusantara. Aku termasuk yang punya pakaian tidak begitu banyak karena nggak suka menumpuk pakaian. Mikir banget kalau misal sampe beli terus nggak kepake.
Tulisan ini sangat insightful sekali mba. Ku harap makin banyak yang membaca dan tercerahkan.
Betul sih, sustainable fashion itu bukan cuma soal fashion yang terbuat dari bahan ramah lingkungan, tapi juga soal warisan budaya. Selain contoh pelestarian kain tenun dari Dayak Iban ini, di Madura juga ada yang namanya batik gentongan, yakni batik yang pewarnaannya direndam dalam gentong. Pewarnaannya alami dan sampai berbulan-bulan. Konon katanya, batik semakin lama warnanya justru semakin bagus. Duh ya, kayaknya Indonesia itu potensi deh sustainable fashionnya.
BalasHapusSustainable fashion ini penting demi keberlangsungkan lingkugan hidup ya mbak. Sebisa mungkin fashion itu terbuat dari bahan-bahan yang ramah lingkungan. Karena sekarang pun makin banyak masyarakat yang sadar akan hal tersebut
BalasHapusJadi dapat insight baru setelah baca postingan Mbak di atas. Bahwa sustainable fashion ini bukan hanya tentang menjaga kelestarian lingkungan melainkan juga tentang menjaga warisan budaya.
BalasHapusNah, saya baru tahu kain tenun dayak iban ini. Kain tenunnya benar-benar sarat makna ya. Sampai-sampai dalam proses pembuatannya khususnya untuk proses nakar gak bisa sembarangan gitu.
Sedikit merasa aneh sih dengan ketentuan saat proses nakarnya itu gak boleh dilakukan saat ada orang meninggal karena bisa bikin benangnya cepat putus. Tapi pasti ada hubungannya ya.
Ini juga termasuk kain yang unik dan berharga ya karena untuk memilikinya sebutannya pun bukan membeli tapi mengadopsi. Keren dan memang warisan budaya yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti ini patut dilestarikan
Dengan mendukung fashion yang berakar pada tradisi dan menggunakan teknik ramah lingkungan, kita tidak hanya tampil stylish tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya dan lingkungan. Pilihan fashion kita dapat menjadi pernyataan dukungan terhadap keberlanjutan dan penghargaan terhadap warisan budaya yang kaya. Mantaapp mba....
BalasHapusKalau nenun atau melakukan ecoprint sendiri, emang belum sih, tapi udah nyoba memakai fashion berkelanjutan. Next mau belajar memanfaatkan bahan bekas dan dibuat jadi hal baru yang ramah lingkungan
BalasHapusSustainable fashion bukan hanya tentang penggunaan bahan ramah lingkungan, tetapi juga menjaga warisan budaya. Di balik setiap tenun, batik, dan kain tradisional, terdapat cerita, keterampilan tangan, dan identitas yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, budaya ini perlahan terkikis oleh tren fast fashion yang serba instan. Bangga dengan mereka yang jadi prajurit terdepan untuk menjaga warisan budaya dari masa ke masa. :)
BalasHapusDi balik setiap tenun, batik, dan kain tradisional, terdapat cerita, keterampilan tangan, dan identitas yang diwariskan turun-temurun. Dengan mendukung fashion berbasis tradisi, kita tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga menjaga sejarah, memberdayakan perajin lokal, dan memastikan budaya kita tetap hidup. Mereka yang menjaga warisan budaya seperti ini keren! :D
HapusKearifan budaya Indonesia tidak akan ada habisnya jika digali dan terus digali, sayang sekali justeru masyarakat kita yang lebih cenderung memilih bahan yang pabrikan daripada dari budaya sendiri. Tapi sejak media sosial mulai bermunculan upaya masyarakat untuk mengembalikan budaya mereka salah satunya ecoprint, seperti di desa ciptagelar sukaresmi, yang difasilitasi oleh salah satu BUMN. Semoga di setiap daerah di Indonesia bermunculan seperti yang digagas oleh Komunitas Tenun Endo Segado....
BalasHapusIya benar, banyak kearifan budaya kita yang bisa dikembangkan dan harus terus dilestarikan sebagai warisan budaya juga
HapusSuka banget dengan hasil warna yg dihasilkan dari pewarna buatan berbahan alami itu. Hasilnya warnanya soft dan membumi gitu ya. Bikin makin anggun kalau ada pada kain yg dikenakan si empunya
BalasHapusMotif kainnya bagus-bagus yaa dan dijadikan berbagai macam karya. Saya suka itu tas nya baguus. Kaya sekali yaa budaya Indonesia itu tidak kalah dengan merk-merk luar negeri. Kereen kain tenun warisan budaya ini.
BalasHapusTopiknya keren dan penting banget! Semoga makin banyak yang aware soal sustainable fashion setelah baca artikel ini. Mantap banget!
BalasHapusWajar aja ya kalau selembar kain tenun itu bisa mahal harganya karena yang dinilai bukan cuma hasil jadinya, tapi proses dibalik pembuatannya. Apalagi mereka masih mempertahankan nilai adat, budaya, dan kelestarian alam.
BalasHapusSaya baru tahu macam-macam lemak hewani bisa dijadikan bahan pewarna kain alami. Bahkan luar biasanya lagi dari limbah dapur pun bisa diolah jadi bahan pewarna kain alami. Menambah nilai ekonomi karya sekalian melestarikan alam juga.
BalasHapuswarisan budaya leluhur kita ternyata banyak sekali ya kak. Syukur kalo masih banyak komunitas yang mau membagikan warisan leluhur kita yg kaya ini. Kyk tenun ikat dr Dayak Iban ini yg menginspirasi ibu2 dan anak muda utk mengubah fesyen menjadi lbh ramah lingkungan. Kereen dan salut buat mbak Mala dan komunitasnya.
BalasHapusPewarna alami memang tampak kainnya tidak terlalu mencolok yaa..
BalasHapusTapi suku Daya Iban berhasil melestarikan lingkungan dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur serta menciptakan fashion yang berkelanjutan.
Jaga lingkungan + jaga tradisi. Ini memang kombinasi yg sempurna
BalasHapusSalut banget sama mereka yang berani berjuang melawan arus fast fashion. Konsisten dengan nilai yang mereka bawa.
BalasHapusProses penenunan kain secara tradisional ternyata memiliki ritual dan tata caranya sendiri ya di setiap suku. Semoga aja nih ke depannya seni tenun kita ini masih bisa terus dilestarikan oleh generasi yang lebih muda
BalasHapusWahh keren bangettt ide untuk menciptakan konsep ramah lingkungan terlebih di aspek pakaian
BalasHapusSepakat banget bukan hanya tentang fashion dan menjaga alam. Tapi juga menjaga warisan budaya. Saya sendiri pingin loh ikutan workshop menenun pakai pewarna alami
BalasHapusMenarik banget konsep sustainable fashion ini ya, limbah tekstil bisa menjadi menjadi produk baru yang bernilai lebih, dibuatnya dengan bahan alami dan daur ulang pula, keren!
BalasHapus